Ada rindu yang menancap begitu dalam ketika aku melihat dirimu.
Tidak dapat kuutarakan, tidak dapat kusampaikan. Hanya dapat kutatap lekat, menyimpan segala yang tak pernah berhasil menemukan jalan keluar. Pilu membiru, perlahan menusuk hati setiap kali kulihat ragamu.
Sometimes, a single glance is enough to remind me of everything I've kept to myself.
Ada begitu banyak hal yang ingin kusampaikan. Kalimat-kalimat yang berkali-kali kususun dalam kepala, percakapan yang hanya hidup dalam bayangan, dan perasaan yang selalu terasa penuh setiap kali berhadapan denganmu.
Namun, pada akhirnya, semua itu kembali menjadi diam.
Ingin rasanya kuutarakan seluruh isi hati, membiarkan kata-kata menyampaikan apa yang selama ini tak mampu kujelaskan. Tetapi, apalah daya, tangan tak sampai. Ada jarak yang tak bisa kutiadakan hanya dengan keinginan, ada batas yang harus kupahami meski hati terkadang punya kehendaknya sendiri.
“Some words never leave the heart, not because they mean too little, but because there is nowhere left for them to go.”
Barangkali, beginilah rasanya menyimpan sesuatu yang tak pernah benar-benar menemukan tempatnya. Bukan tak ingin berbicara, bukan pula tak punya keberanian. Terkadang, kita hanya perlu memahami bahwa tidak semua yang ingin disampaikan harus sampai kepada seseorang.
And perhaps, silence is not always an absence of words. Sometimes, it is simply where we leave the things we can no longer ask someone else to carry.
Aku tak tahu sampai kapan perasaan ini akan menetap. Mungkin waktu akan mengubahnya menjadi sesuatu yang lebih tenang. Mungkin suatu hari nanti, melihatmu tak lagi menghadirkan begitu banyak hal yang harus kutahan sendiri.
Untuk sekarang, biarlah semuanya menjadi bagian dari perjalanan yang sedang kupahami perlahan.
Aku tak ingin membenci rindu hanya karena ia tak menemukan tempat untuk berlabuh. Sebab, bagaimanapun, perasaan ini pernah mengajarkanku sesuatu tentang diriku sendiri: bahwa hati bisa menyimpan begitu banyak hal, tetapi kedewasaan mengajarkan kita kapan harus berbicara dan kapan harus membiarkan semuanya tetap menjadi rahasia.
“Not every feeling needs to be confessed to be real, and not every longing needs to be fulfilled to have meant something.”
Maka, jika suatu hari nanti aku mampu melihatmu tanpa lagi menyimpan begitu banyak kata di balik tatapan, semoga itu bukan karena aku telah melupakan segalanya.
Semoga aku hanya telah menemukan kedamaian dengan apa yang tak pernah sempat kusampaikan.